Senin, 26 Januari 2026

Belakangan ini aku semakin sadar, kalau menjaga jarak itu bukan berarti menutup diri. Aku senang punya banyak teman dan selalu terbuka untuk bertemu siapa saja. Namun, aku memang belajar untuk lebih menjaga suasana hati supaya tetap tenang.

Prinsipku sebenarnya cukup sederhana; aku hanya ingin menghindari prasangka. Sebab bagiku, prasangka adalah bibit konflik. Dengan menjaga jarak dari orang yang meragukan kita, secara otomatis kita memotong jalur drama—walaupun, entahlah, mungkin saja sebenarnya aku yang terlalu drama.

Kalau aku merasa kehadiranku justru memunculkan keraguan atau rasa tidak percaya di hati orang lain, aku lebih memilik untuk mundur pelan-pelan. Bukan karena aku merasa paling benar, melainkan karena aku ingin kita sama-sama nyaman. Aku tidak ingin membebani siapapun untuk harus percaya padaku, dan aku pun ingin menjaga hatiku agar tetap tenang tanpa perlu merasa harus membuktikan apa-apa.

Aku percaya bahwa penilaian manusia itu tempatnya khilaf. Bisa jadi aku yang salah, atau aku yang keliru dalam membaca situasi. Maka bagiku lebih baik kita berteman dalam jarak yang saling menghargai daripada dipaksakan dekat namun penuh curiga.

Aku tidak pernah menutup pintu pertemanan. Hanya saja sekarang aku lebih memilih untuk menyimpan energiku untuk hubungan yang terasa tulus dan ringan di kedua belah pihak. Rasanya itu cara terbaik agar aku bisa tetap bersikap baik kepada siapapun tanpa harus kehilangan ketenangan diri sendiri.

0 comments:

Posting Komentar