Kamis, 29 Januari 2026

CERITA DEVI

Tidak semua kabar baik langsung terasa menyenangkan. Ada kabar yang datang bersamaan dengan rasa ragu, pikiran yang bercabang, dan pertanyaan yang pelan-pelan mengendap di kepala. Begitu juga yang aku rasakan saat Tanggal proses penyerahan SK semakin dekat. Di satu sisi ada rasa syukur, di sisi lain ada kegamangan yang sulit diabaikan.

Salah satu hal yang paling berat untuk diterima adalah jarak. Lokasi kerja yang berada cukup jauh dari rumah, ketika jarak bukan hanya soal kilometer, tetapi juga tentang energi, waktu, dan kesiapan mental untuk menjalaninya setiap hari.

Dengan berat hati aku harus menjalani, sembari mencari sebenarnya apa yang sedang Allah siapkan di tempat ini. Mencoba bertahan sambil membuka mata dan hati.

Berusaha mencari jawaban melalui pengalaman sehari-hari. Dengan harapan lingkungan kerja yang akan aku temui melebihi ekspektasi. Orang-orangnya hangat, saling menghargai, dan tidak memaksaku menjadi versi lain dari diri sendiri. Berharap aku diterima apa adanya, tanpa harus menyesuaikan diri secara berlebih.

Rabu, 28 Januari 2026

Aku bukan penulis profesional. Bukan penulis buku.
Aku hanya seseorang yang sedang belajar menulis.

Menulis apa saja yang ingin ku tulis.
Tentang isi kepalaku, tentang cerita teman, tentang hal-hal kecil yang mungkin sepele tapi terasa penuh di dada.

Jika ada yang berkenan membaca, ya Alhamdulillah.
Jika tidak ada, ya tidak apa-apa.

Tulisan ini tetap punya tempat pulang; blog ku sendiri,

Aku menulis bukan untuk menggurui, bukan untuk terlihat paling tahu.
Aku hanya mencoba untuk jujur, dengan bahasa manusia ke manusia.

Aku sadar, tulisanku belum seindah mereka yang telah lama bersahabat dengan kata.
Tapi setiap orang punya jalannya sendiri, dan ini adalah tempatku belajar berjalan.

Aku hanya perempuan yang belajar bertahan, berpikir, tanpa harus menjelaskan diriku kepada siapapun.

Jika suatu hari kau menemukan dirimu disini, anggap saja kita sedang duduk diam, untuk berbagi sunyi yang sama.

Selasa, 27 Januari 2026

Orang-orang mungkin akan mengatakan bahwa aku jahat karena memilih tidak ingin bertemu dan menjauh dari seseorang yang pernah mengecewakan.

Itu memang hak mereka menilai sesuatu, namun aku punya alasan tersendiri kenapa melakukannya tanpa mereka tahu.

"Aku tidak ingin dikecawakan lagi oleh seseorang yang sama.."

Senin, 26 Januari 2026

Belakangan ini aku semakin sadar, kalau menjaga jarak itu bukan berarti menutup diri. Aku senang punya banyak teman dan selalu terbuka untuk bertemu siapa saja. Namun, aku memang belajar untuk lebih menjaga suasana hati supaya tetap tenang.

Prinsipku sebenarnya cukup sederhana; aku hanya ingin menghindari prasangka. Sebab bagiku, prasangka adalah bibit konflik. Dengan menjaga jarak dari orang yang meragukan kita, secara otomatis kita memotong jalur drama—walaupun, entahlah, mungkin saja sebenarnya aku yang terlalu drama.

Kalau aku merasa kehadiranku justru memunculkan keraguan atau rasa tidak percaya di hati orang lain, aku lebih memilik untuk mundur pelan-pelan. Bukan karena aku merasa paling benar, melainkan karena aku ingin kita sama-sama nyaman. Aku tidak ingin membebani siapapun untuk harus percaya padaku, dan aku pun ingin menjaga hatiku agar tetap tenang tanpa perlu merasa harus membuktikan apa-apa.

Aku percaya bahwa penilaian manusia itu tempatnya khilaf. Bisa jadi aku yang salah, atau aku yang keliru dalam membaca situasi. Maka bagiku lebih baik kita berteman dalam jarak yang saling menghargai daripada dipaksakan dekat namun penuh curiga.

Aku tidak pernah menutup pintu pertemanan. Hanya saja sekarang aku lebih memilih untuk menyimpan energiku untuk hubungan yang terasa tulus dan ringan di kedua belah pihak. Rasanya itu cara terbaik agar aku bisa tetap bersikap baik kepada siapapun tanpa harus kehilangan ketenangan diri sendiri.

Sabtu, 24 Januari 2026

Apa yang telah berlalu baik suka maupun duka tak pernah benar-benar hilang. Semuanya meninggalkan jejak, memberi makna, dan menyimpan pelajaran. Ia akan tetap berguna bila kita menjadikannya cermin, bukan beban. Dari sana kita belajar mengenali diri, memahami batas, serta menata kembali arah langkah.

Seringkali manusia sibuk menimbang; siapa yang paling bahagia, siapa yang paling terluka. Padahal, tak semua rasa perlu diperdebatkan, dan tak semua cerita perlu dibandingkan. Sebab yang mampu menilai secara adil tentang kadar duka dan suka hanyalah Tuhan. Dia yang Maha Mengetahui isi hati, luka yang tersembunyi, dan syukur yang tak terucap.

Karena itu, tugas kita bukan menghakimi masa lalu, melainkan memaknainya. Muhasaah hari ini adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri mengakui kekurangan, mensyukuri nikmat, dan memperbaiki niat. Dari muhasabah itulah lahir kebijaksanaan, ketenangan, dan tekad untuk melangkah menjadi lebih baik.

Hari esok tak dibangun dari penyesalan semata, tetapi dari kesadaran. Dan setiap kesadaran yang lahir hari ini adalah jalan menuju pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih dekat pada kebaikan.

Jumat, 23 Januari 2026

Saat ini aku benar-benar sedang di keadaan yang sulit, kadang mikir buat pasrah aja, aku akan diam disini nunggu ada yang sadar kalau aku sedang kesulitan, aku selalu takut untuk cerita karena ga mau menambah beban orang lain.

Tapi aku pikir lagi, sepertinya ga akan mungkin?
Mungkin aku harus bangkit? Tapi kenapa sulit ya?
Beribu-ribu pertanyaan muncul di otakku ketika aku mencoba untuk bangkit, rasanya berat untuk bangun lagi, aku ingin semuanya cepat kembali seperti semula.

But here I am..
Aku juga heran kenapa selalu dapat motivasi untuk bertahan sampai sejauh ini? Mungkin karena aku selalu berandai-andai; "Kira-kira hari apa, tanggal berapa, di situasi seperti apa yang bakal menjadi hari paling bahagiaku ya?" Hehe

I'm so glad for my self tho..
Semangat yaa buat yang lagi merasa kesulitan. Apapun jalannya, apapun motivasinya, as log as itu akan membuatmu jadi bangkit lagi, just remember! Masih banyak yang sayang sama kamu, masih banyak hal yang perlu kamu tau, masih banyak juga hal yang perlu kamu gali.

Jadi, tetap semangat !!! 😊

Kamis, 22 Januari 2026

HARAPAN

Ada fase di hidup ini mungkin juga terjadi di banyak orang. Fase dimana ketika diri berani membuka pintu. Bukan karena sudah sangat siap, tapi karena sadar, menutup diri terus-menerus juga bukanlah sebuah jawaban.

Di fase itu, aku diingatkan kembali pada beberapa hal penting;

Bahwa tidak semua langkah harus berakhir pada tujuan besar. Kadang langkah itu cukup untuk mengajarkan cara berjalan yang lebih benar.

Beberapa pertemuan pun memang hanya ditakdirkan sampai tahap menguji ketenangan. Bukan untuk tinggal, bukan untuk dilanjutkan, tapi untuk mengembalikan kita ke posisi yang lebih seimbang.

Disitu ego sedikit diluruskan, ekspektasi diturunkan, dan hati diajak kembali ke titik tengah; tidak terlalu berharap, tidak pula menutup diri.

Aku juga belajar bahwa menunggu dengan sadar lebih menenangkan dari pada bergerak karena gelisah. Dan menahan diri di waktu yang tepat adalah bentuk keberanian yang sering tidak terlihat.

Tentunya proses ini tidak mengubah arah hidupku secara drastis. Ia hanya menggeser sedikit caraku memandang; tentang kesiapan, tentang harapan, dan tentang pentingnya tetap tenang di tengah kemungkinan.

Rabu, 21 Januari 2026

'RUMAH'

Aku ingin jadi 'rumah' yang paling nyaman, tempat orang-orang yang aku sayang pulang. Menjadi lifetime supporter yang tak pernah absen merayakan kemenangan kecil mereka, dan menjadi orang yang memeluknya saat dunia sedang terasa tidak adil. Aku ingin memastikan bahwa sejauh apapun mereka melangkah, mereka tau persis kemana harus kembali untuk merasa tenang setelahnya. Karena pada akhirnya aku ingin menjadi tempat singgah yang hening, saat dunia mereka sedang gaduh-gaduhnya.

Rasanya aku siap diciptakan untuk itu. Untuk menjadi saksi bisu setiap pertumbuhan mereka, menjadi orang yang tetap berdiri di garis finish bahkan ketika mereka merasa tidak sedang memenangkan apapun.

Tanganku mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah mereka, tapi aku tau tangan ku diciptakan untuk menggenggam erat saat mereka gemetar. Hatiku mungkin bisa ikut terluka saat mereka jatuh, tapi disanalah letak kekuatannya; agar mereka tidak pernah merasa sendirian saat menanggung beban.

Aku tidak keberatan menjadi 'akar' yang tak terlihat, selama mereka bisa tumbuh menjadi pohon yang rimbun dan bunga yang mekar dengan indah. Karena bagiku, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada melihat orang-orang yang aku sayangi merasa 'penuh' hanya karena mereka tau bahwa mereka memiliki aku.

Selasa, 20 Januari 2026

ITU AKU

Di dalam diriku, bersemayam berbagai sisi kepribadian yang saling mempengaruhi. Caraku bersikap akan berubah tergantung dengan siapa aku bicara —apakah saat sendirian, bersama orang tua, teman, atau orang asing yang tak ku kenal. Terkadang aku bisa menjadi seorang perfeksionis yang teliti, namun di saat yang lain, aku bisa menjadi sangat pasif dan pemalas.

Ada waktu di tengah malam ketika aku terjaga, di dorong oleh pikiran-pikiran berat yang memenuhi kepala. Namun, di sudut hati yang lain, masih tersimpan jiwa romantis yang sederhana. Ia yang selalu membayangkan indahnya melihat matahari terbenam di cakrawala pantai bersama orang tersayang.

Terkadang, sisi sosiofobia ku muncul dan menciptakan kepanikan di tengah keramaian. Namun, perasaan itu harus hidup berdampingan dengan sisi aktivis di dalam diriku; ia yang ingin membantu semua orang dan mengenal setiap jiwa.

Meski terlihat bertentangan, mereka semua bukanlah orang yang berbeda. Mereka adalah kepingan yang bersatu membentuk satu "Aku" yang sesungguhnya.

Senin, 19 Januari 2026

HAPPY BIRTHDAY, Qla..

Tepat di hari ini, Tahun mu berulang.

19 Januari yang sama seperti hari-hari biasa lainnya. 
Bedanya 26 tahun yang lalu Ibu mu melahirkan dunia baru bagi orang-orang yang mencintaimu.

Mungkin aku tak bisa mendo'akanmu secara lisan,
karena tidak semuanya harus jelas dan terlihat,
harus ada yang hening, setenang do'a.

Apa kau tahu?
Do'a memang selalu begitu rumusnya,
semakin rahasia, semakin bertenaga,
semakin diumbar, semakin hambar.

Selamat Ulang Tahun, untukmu..
Ku pastikan do'a-do'a baik yang akan aku panjatkan,
dan biarkan itu menjadi rahasiaku dengan Tuhan.

Terima setiap hal yang hadir dengan baik, ya..